Seorang yang bekerja di Bank atau yang semisalnya dari tempat-tempat yang berlaku di dalamnya berbagai praktek riba adalah diharamkan di dalam isam.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau: “Semuanya sama (dalam dosa).” (HR. Muslim)

Dan bekerja di Bank merupakan bentuk kerjasama dalam mengembangkan sistem riba mereka, hal ini termasuk tolong menolong dalam dosa.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan janganlah kalin tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya. (QS.Al-Maidah:2)

Setelah kita mengetahui bahwa bekerja di tempat riba adalah haram, maka apakah boleh bekerja di tempat tersebut dengan alasan darurat…?

Disebutkan dalam Al-Bahru Ar-Râ’iq;7/127:

ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺤﺘﺎﺝ اﻻﺳﺘﻘﺮاﺽ ﺑﺎﻟﺮﺑﺢ

“Boleh bagi seorang yang butuh untuk meminjam dengan adanya tambahan (riba).”

Yang dimaksud dengan butuh disini adalah karena darurat.

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah setelah menyebutkan beberapa masalah riba:

ﻭﻟﻴﺲ ﻳﺤﻞ ﺑﺎﻟﺤﺎﺟﺔ ﻣﺤﺮﻡ ﺇﻻ ﻓﻲ اﻟﻀﺮﻭﺭاﺕ ﻣﻦ ﺧﻮﻑ ﺗﻠﻒ اﻟﻨﻔﺲ

“Sesuatu yang haram tidaklah halal karena adanya kebutuhan kecuali darurat berupa ditakutkan kebinasaan diri.”
(Al-Umm:3/28)

Ini berdasarkan kaedah umum dalam syariat yang berbunyi:
Adh-Dharurah Tubihu Al-Mahzhurãt.
(Darurat membolehkan sesuatu yang haram).

Berdasarkan hal ini maka bermuamalah dengan muamalah riba adalah boleh dengan alasan darurat. Tapi sebelumnya, kita harus ketahui apa batasan darurat yang dimaksud dalam syariat.

Berkata Al-Allamah Az-Zarkasyi Asy-Syafi’i rahimahullah:

فالضرورة : بلوغه حدّاً إن لم يتناول الممنوع هلك أو قارب كالمضطر للأكل ، واللبس بحيث لو بقي جائعاً أو عرياناً لمات ، أو تلف منه عضو ، وهذا يبيح تناول المحرم

Darurat seorang mencapai tahap jika dia tidak melakukan hal yang dilarang maka dia akan mati atau hampir mati, seperti seorang yang terdesak untuk memakan (yang haram) atau memakai (pakaian yang haram) yang mana jika dia terus menerus lapar atau telanjang maka dia akan mati atau rusak salah satu anggota tubuhnya. Ini membolehkan melakukan yang haram.
:books:(Al-Mantsur Fil-Qawã’id:2/319)

Setelah kita mengetahui makna Dharurah (darurat) maka yang perlu diketahui bahwa pembolehan melakukan yang haram dengan alasan darurat memiliki syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan para ulama, di antaranya sebagai berikut:

Pertama:
Darurat tersebut benar-benar ada dan terwujud.

Kedua:
Tidak ada jalan lain kecuali dengan melakukan yang haram

Ketiga:
Hilangnya hal darurat tersebut dengan melakukan yang haram.

Keempat:
Melakukan yang haram tersebut sesuai dengan kadar darurat.
(Lihat Ad-Durar Al-Bahiyah Syarh Manzhumah Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah:112)

Sekarang kita terapkan syarat-syarat ini kepada orang yang bekerja di Bank.

Syarat pertama, apakah darurat terwujud pada diri orang yang bekerja di Bank yang mana jika dia tidak berkerja di bank dia akan mati atau hampir mati atau membahayakan dirinya baik akal, harta dan agamanya..? Jawabannya: tidak terwujud. Justru kenyataan yang ada hampir-hampir tidak ada satupun yang bekerja di bank karena darurat. Syarat pertama tidak terpenuhi.

Syarat kedua, benarkah tidak ada pekerjaan lain selain kerja di Bank sehingga kalau dia tidak kerja di Bank akan membahayakan dirinya?
Jawabnya: masih banyak pekerjaan yang halal, bahkan pekerjaan yang haram yang dosanya lebih rendah dari riba lebih banyak. Syarat kedua tidak terpenuhi.

Syarat ketiga dan keempat, jelas tidak terpenuhi karena asal daruratnya sudah tidak terwujud sebagaimana pada syarat pertama.

Kesimpulan:
BEKERJA DI BANK ADALAH HARAM DAN WAJIB DITINGGALKAN.

0 Komentar