BEDAKAN ANTARA RIBA DAN LABA

Tidak semua kelebihan harga bisa disebut riba. Kelebihan bisa direbut riba jika terjadi ketika sudah terjadi akad. Biasanya di dalam konven, yg awalnya 230jt bisa berlebih tidak hanya menjadi 300jt, bisa saja lebih krn ada bunga anuitas (di konven potongan hutang pokok sangat kecil dlm bbrp tahun diawal), denda jika terlambat dan fluktuasi nilai suku bunga.
.
Dalam syariah, harga cash dan kredit totalnya sudah disampaikan di awal. Misal harga cash 230jt, kredit 5 thn 270jt atau 10thn 300jt. Semuanya masih dlm penawaran, faktanya ketika berakad jual beli hanya di satu harga.

jika memilih kredit maka akan menggunakan harga kredit saat akad jual beli. Ketika dicicil harganya tetap tidak ada kelebihan dan pengurangan krn tidak ada bunga, tidak ada biaya denda, pinalti dll, jadi FLAT sampai akhir.

➡➡ Kelebihan disini disebut LABA, keuntungan yg ditetapkan developer memperhitungkan resiko yg ada selama masa kredit tsb⬅⬅
.
Kalau KPR konvensional meskipun ada yg cicilan flat tapi selama masih ada biaya denda itu adalah Riba.. yakin KPR konvensional flat, Krn bank ngikutin suku bunga yg bisa floating kecuali KPR bank syariah meskipun tanpa bunga apakah masih ada biaya denda?
.
Mari kita bahas contoh LABA dan RIBA agar anda mudah untuk memahami dengan bahasa yang umum:
.

  1. Saya membeli sebuah rumah seharga Rp. 100 Juta dan saya hendak menjual dengan mengambil untung dengan bunga 1% perbulan untuk jangka waktu pembayaran 1 tahun & biaya denda 0,2%. Transaksi seperti ini tergolong transaksi RIBAWI, karena harga belum jelas dan bisa terjadinya kelebihan harga yang tidak sesuai dengan akad.
    .
  2. Saya membeli sebuah rumah seharga Rp. 100 juta, dan saya hendak menjual secara kredit selama setahun dengan harga Rp. 112.000.000,-. Transaksi ini termasuk transaksi SYARIAH, karena harga sudah ditentukan diawal tidak berubah sampai akhir.

Tambahan :
Tidak ada dalil yang mengharamkan margin diatas 25%, bahkan margin diatas 100% pun boleh, asal sesuai harga pasaran, apalagi kalau harga masih dibawah harga pasar 🙂

Dalil yang memperbolehkan harga cash boleh dengan harga kredit :

Diriwayatkan dari Thawus, Hakam dan Hammad, mereka mengatakan hukumnya boleh seseorang mengatakan, “Saya menjual kepada kamu segini dengan kontan, dan segini dengan kredit”, lalu pembeli memilih salah satu diantaranya. Ali bin Abi Thalib ra. berkata,
“Barangsiapa memberikan tawaran dua sistem pembayaran, yakni kontan dan tertunda, maka tentukanlah salah satunya sebelum transaksi.”

Ibnu Abbas ra. berkata :

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ : ﻻ ﺑﺄﺱ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﺴﻠﻌﺔ ﺑﻨﻘﺪ ﺑﻜﺬﺍ ﻭﺑﻨﺴﻴﺌﺔ ﺑﻜﺬﺍ، ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻳﻔﺘﺮﻗﺎﻥ ﺇﻻ ﻋﻦ ﺭﺿﺎ

“Seseorang boleh menjual barangnya dengan mengatakan, Barang ini harga tunainya sekian dan tidak tunainya sekian, akan tetapi tidak boleh Penjual dan Pembeli berpisah melainkan mereka telah saling ridha atas salah satu harga.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah)

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berkata :
Diperbolehkan bagi penjual untuk menjual barangnya dengan dua pembayaran yang berbeda, yaitu kontan atau kredit. Jika seseorang berkata pada temannya, “Saya menjual barang ini 50 secara kontan, 60 secara kredit.”
Lalu temannya itu berkata, “Saya beli secara kredit 60.” Atau dia berkata, “Saya beli dengan kontan 50.”, maka sahlah jual beli itu. Begitu pula jika dia berkata, “Saya jual barang ini 60 secara kredit, selisih 10 dari harga aslinya jika secara kontan, karena pembayarannya di belakang”, dan pembeli mengatakan setuju, maka sahlah jual beli itu. (Syakhsiyah Islamiyah juz II)

Syaikh Abdul Azis bin Baz berkata :
“Jual beli kredit hukumnya boleh, dengan syarat bahwa lamanya masa angsuran serta jumlah angsuran diketahui dengan jelas saat aqad, sekalipun jual-beli kredit biasanya lebih mahal daripada jual-beli tunai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz)

Jadi kesimpulannya, boleh-boleh saja seseorang menawarkan barang dengan dua harga atau bahkan banyak harga, tetapi dealnya (akad jual belinya) wajib disepakati hanya satu harga saja.

Semoga Bermanfaat

Salam Berkah Berlimpah

0 Komentar