CONTOH KASUS :

1⃣ Si Adul beli rumah konvensional dgn harga 300 juta dicicil 15 tahun di daerah Bekasi.
================================

2⃣ Si Bedu beli property syariah dengan harga 300 juta dgn jangka waktu 15 tahun di daerah yang sama (di Bekasi).
===================================
Pada tahun ke 10 si Adul dan si Bedu sdh tidak bisa bayar cicilan dgn alasan di PHK dari pekerjaannya.

Apa yg terjadi berikutnya??!

Si Adul pertama-tama akan di telpon oleh Customer Service Bank selama 3 bln berturut turut utk melunasi hutang cicilannya, setelah itu akan turun Surat Somasi untuk si Adul, dimana si Adul selain harus melunasi nilai cicilan selama 3 bulan masih ditambah dengan bunga, denda dan pinalti.

Belum selesai sampai disitu jika si Adul gak bisa juga melunasi cicilannya, maka akan datang surat dr Bank utk proses lelang. Dan si Adul disuruh meninggalkan rumah yg sdh dihuninya selama 10 tahun tanpa membawa ada sisa.
Begitulah akhir kisah di Adul.

#Menyedihkan 😫

===========

Lalu…. siapa yg tau dengan Nasibnya si Bedu???

Nasib si Bedu yang beli Rumah dengan KPR syariah

Si Bedu akan dihubungi oleh Customer Service untuk menanyakan kesanggupannya dalam membayar cicilan.

Jika tidak sanggup si Bedu akan diberikan opsi untuk menjual rumahnya dgn harga pasar atau dibantu dijualkan oleh Developer.

Karena nilai property tiap tahun naik otomatis. Dan ternyata pd saat dijual asset si bedu naik jadi 600 juta sedangkan sisa cicilannya tinggal 100 juta, maka si Bedu akan dapat sisanya 500 juta dikurangi biaya administrasi sesuai aturan developer.

Bagaimana jika assetnya (rumahnya) blm laku?
Si Bedu tetap boleh menempati asset tersebut sampai assetnya laku.

0 Komentar